.: Indahnya Hidup Bila Hati Yang Bicara :.

Kategori Posting Gono Gini

Setelah lama akhirnya sempet juga nulis - nulis di blog. Sebenarnya banyak yang ingin diceritakan dan ingin dituangkan dalam blog ini, tapi karena kisah ini yang paling seru maka diputuskan untuk menulis kisah ini.

Kisah ini bermula ketika menerima undangan pernikahan salah satu dosen ditempatku kuliah, ( ( 28 Mei 2006 ) ketika membacanya seketika itu pula aku diajak untuk pergi memenuhi undangannya (ke daerah brosot Yogyakarta). Karena ternyata kampus diliburkan dari kamis hingga minggu.

Singkat cerita.

< Hari Pertama >
Jum’at Pagi kami berempat brangkat dari kampus (6.30), dengan tujuan pertama mampir kerumah temanku yang berada didaerah sumpiuh(Banyumas), untuk melepas lelah. Setelah itu perjalanan dilanjutkan untuk mencari penginapan yang dekat dengan tempat tujuan.
Kami melewati Malioboro kawasan perbelanjaan yang ada di Yogya (terus terang berkali-kali ke yogya, baru kali pertama aku kemalioboro). Kami putar-puter daerah Yogya, Akhirnya dapet penginapan (Sekitar jam 21.30), Istirahat sebentar sambil merencanakan hari esok yang pastinya ditemani oleh makan kecil dan minuman hangat. Jam 00.15 menit kami masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

Hari Kedua
Aku bangun tidur pagi itu jam 5.35, lalu bersegera untuk sholat shubuh. bersih2 muka dan lain-lain akhirnya selesai juga sekitar 15 menit kemudian. Karena mataku masih terasa ngantuk, aku putuskan untuk melanjutkan memejamkan mata dengan mengambil selimut yang berantakan. Baru saja Aku mau menyelimuti badanku terdengar getaran hebat di atap Namun aku masih berfikir itu hanya tikus yang biasa berkeliaran diatap(Maklum rumahku banyak tikusnya). beberapa detik berikutnya ternyata tempat tidurkupun ikut bergoyang diiringi oleh teriakan banyak orang dari luar yang berteriak gempa berkali-kali, aku dan temanku langsung keluar sambil sempoyongan sesampainya ditangga turun, aku tidak turun karena aku merasa pusing, serta kakiku serasa tidak kuat untuk berdiri, akibat getaran yang dihasilkan oleh gempa tersebut. Genteng tempatku menginap runtuh dan sebagian mobil yang parkir di lahan parkir hotel terkena runtuhan genteng tersebut. Keadaan Panik terus berlanjut hingga gempa pertama reda. kami memberanikan diri untuk naik kembali ke kamar guna berkemas untk segera Chek-Out.

Ketika aku masuk ke kamar hotelku ternyata Televisi yang aku tonton sudah jatuh dari mejanya(tingginya kurang lebih 1 meter dari lantai), serta lampu meja dekat tempat tidur. lalu aku segera berkemas memasukkan pakaianku kedalam tas. Ketika siap untuk turun kebawah goyangan gempa sekali lagi kurasakan, namun tidak sehebat gempa yang kualami pertama kali. Bergegas aku langsung turun. dan mencari tempat perlindungan. Beberapa gambar sepat aku abadikan, namun belum bisa aku berikan dalam blog ini, mungkin cerita berikutnya. Lalu setelah mengurus administrasi penginapan kami putuskan untuk kembali kerumah temanku yang berada disumpiuh. untuk menenangkan tenaga,fikiran dan lainnya. Dan berencana ketempat Orang tua temanku yang satunya lagi.

bersambung……..

Kategori Posting Motivasi

Setelah bekerja keras, berdagang dan menjadi rentenir, si kikir telah
menumpuk harta, hingga hartnya jika dihitung-hitung mencapai tiga ratus ribu dinar.
Ia memiliki tanah luas, beberapa gedung, dan segala macam harta benda.
Kemudian ia memutuskan untuk beristirahat selama satu tahun.
Hidup nyaman, dan kemudian menentukan tentang masa depannya.

Tetapi, segera setelah ia berhenti mengumpulkan uang, Malaikat Maut muncul
di hadapannya untuk mencabut nyawanya. Si kikir pun berusaha dengan segala
daya upaya agar Malaikat Maut itu tidak jadi menjalankan tugasnya. Si kikir
berkata, “Bantulah aku, barang tiga hari saja. Maka aku akan memberimu
sepertiga hartaku.”

Malaikat Maut menolak, dan mulai menarik nyawa si kikir.
Kemudian si kikir memohon lagi, “Jika engkau membolehkan aku tinggal dua hari saja, akan
kuberi engkau dua ratus ribu dinar dari gudangku.”

Tetapi lagi-lagi Malaikat Maut pantang menyerah dan tak mau mendengarkannya. Bahkan ia
menolak memberi tambahan satu hari demi tiga ratus ribu dinar dari si Kikir.

Akhirnya si kikir menulis berkata, “Kalau begitu, tolong beri aku waktu
untuk menulis sebentar.”

Kali ini Malaikat Maut mengijinkannya, dan si kikir menulis dengan darahnya
sendiri:
Wahai manusia, manfaatkanlah hidupmu. Aku tidak dapat membelinya
dengan tiga ratus ribu dinar.
Pastikan engkau menyadari nilai dari waktu
yang engkau miliki.